Situasi & Solusi
Bagaimana situasi rabies di dunia dan di Indonesia, dampaknya, dan empat strategi utama untuk mengendalikan serta memberantasnya.
Rabies endemis hampir di semua benua kecuali Antartika. 95% kasus pada manusia berasal dari Asia dan Afrika, dan sebagian besar (80%) terjadi di masyarakat pedesaan dengan akses kesehatan terbatas. Diperkirakan 55.000 orang meninggal setiap tahun — satu nyawa setiap 10 menit — dan lebih dari 95% tertular melalui gigitan anjing.
Rabies pertama kali dilaporkan di Indonesia pada tahun 1884. Dalam 20 tahun terakhir, penularan meluas ke daerah baru seperti Flores (1997), Bali (2008), Nias (2010), serta Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (2019). Saat ini rabies masih menjadi masalah di 26 dari 34 provinsi.
Rabies menimbulkan kehilangan nyawa, dampak ekonomi, dan dampak sosial. Kerugian dihitung dari hilangnya produktivitas, biaya penanganan gigitan (VAR dan SAR), serta kehilangan hewan ternak. Di Bali, kerugian ekonomi diperkirakan mencapai 17 juta dolar (sekitar 230 milyar rupiah) selama 2008–2011.
Pendekatan Indonesia memadukan pendekatan zona (geografis) dan pendekatan tahapan (SARE), dengan kerangka kerja STOPS: sosial-budaya, teknis, organisasi, politik, dan sumber daya. Empat strategi utama berikut saling menguatkan.
Vaksinasi minimal 70% populasi anjing, dilakukan serentak dan menyeluruh hingga ke tingkat dusun, adalah strategi paling efektif memutus penularan.
Penanganan korban gigitan secara cepat dan tepat — pencucian luka, pemberian vaksin anti rabies (VAR), dan rujukan medis — menyelamatkan nyawa setelah kontak terjadi.
Meningkatkan kesadaran masyarakat, terutama anak-anak, tentang pencegahan dan pertolongan pertama meluruskan mis-informasi dan mendorong perilaku yang tepat.
Kepemilikan anjing yang bertanggung jawab dan pengelolaan populasi yang manusiawi menjaga cakupan vaksinasi tetap tinggi dan menekan penularan.
Donatur, mitra, dan relawan adalah bagian dari gerakan ini. Mari berkenalan.
Hubungi Sahabat Sehati